
Ponorogo, Indonesia: September 2008,
Sebagai seorang putra Ponorogo, saya pernah dibuat kemringet (Panas dingin ) ketika ditanya oleh seorang relasi, tentang siapa dan bagaimana sosok seorang warok. Yah, Lucu, norak dan kelihatan unkredible banget, sebagai generasi penerus yang diyakini dalam tubuhnya juga mengalir darah warok, tetapi tidak bisa memahami bagaimana sosok seorang warok yang sebenarnya. Jian ora ndlomok, tenan !
Ketika saya coba browsing, si pintar wiki pedia juga tidak menunjukan jawaban yang memuaskan. Mungkin yang nulis disitu mengalami kebingungan serupa yang saya alami, disana hanya digambarkan secara fisik bahwa warok adalah seorang tokoh yang berpenampilan kasar dengan tubuh gempal dan berjangggut panjang, serta ekspresi menyeramkan. Lebih parah lagi warok di plesetkan menjadi nek wareg ngorok.( kalau kenyang ngorok ) Betapa konotasinya tidak produktif, ini menandakan adanya gejala degradasi budaya yang semakin menjauhkan jatidiri rakyat dengan jiwa dan semangat leluhurnya.
Untuk itulah tidak ada jeleknya, kalau kita mencoba mendenyutkan kembali, semangat kultural tersebut, sedapat mungkin ditelusuri gambaran yang medekati jatidiri warok yang seharusnya. tidak hanya digambarkan secara fisik tetapi juga digali lebih dalam tentang wewarah seorang
Untuk itulah tidak ada jeleknya, kalau kita mencoba mendenyutkan kembali, semangat kultural tersebut, sedapat mungkin ditelusuri gambaran yang medekati jatidiri warok yang seharusnya. tidak hanya digambarkan secara fisik tetapi juga digali lebih dalam tentang wewarah seorang
gb. 2 mbah wo kucing ( sosok warok )warok. Semoga ini menjadi uger-uger yang seharusnya kita hayati dalam sikap sehari -hari. Istilah Warok yang dimunculkan ( atau termunculkan ) sebenarnya merupakan pengendapan dari perilaku masyarakat Ponorogo sendiri. Jadi, Sosok warok adalah karakter asli wong Ponorogo. Warok adalah akumulasi Norma, nilai yang telah dianut rakyat selama bertahun-tahun dan diwariskan secara turun temurun kepada generasi berikutnya.
Karakter masyarakat terbentuk dari assimilasi berbagai unsur yang ada dimasyarakat yang berlaku dalam jamanya. Dulunya Ponorogo merupakan bagian dari wilayah mataram. Sebagaimana kita maklumi bahwa nilai kultur masyarakat jawa ( Mataraman ), sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam pedalaman, yang sedikit lebih khas dibandingkan dengan Islam di Pantura atau daerah pedharungan. Dengan demikian paling tidak dapat ditarik asumsi awal, bahwa adat istiadat wong Ponorogo, juga sangat berbau filosofi-filosofi Islami.
dari sisi saya masih optimis bisa menelusuri jejak warok, kemudian menarik kembali benang merah sejarah, dengan mengkaji nilai-nilai Islam yang saya sakini tidak pernah tergradasi oleh zaman, bahkan sejak saat ajaran warokitu dilahirkan.Yah, Suatu saat saya berharap bisa mendiskripsikan pada diri saya sendiri atau menceritakan pada anak cucu saya kelak, sukur-sukur bisa bermanfaat bagi orang banyak. Seperti apa sosok seorang warok itu ?
warok berasal dari kata Wira'i , yang dalam bebarapa pembahasan seringkali disandingkan dengan zuhud. Zuhud dimaksudkan sebagai kemampuan bertahandiri dari segala nafsu duniawi yang mendorong sesorang bersikap secara berlebihan. Orang zuhud hidup secara sederhana ( efisien dan efektif ) karena beranggapan bahwa semua yang dikuasai adalah milik Allah yang harus dimanaged sebaik-baiknya. Sekalipun sebenarnya dia punya kemampuan untuk bergaya hidup berlebihan, tetapi dia memilih hidup wajar sesuai kebutuhan.
Sedangkan Wira' dimaksudkan kemampuan untuk menghindarkan diri dari perbuatan tercela, berbuat dosa dan melanggar hukum. ( syari'at ).
Jadi jelas, bahwa warok adalah sosok yang telah wira', zuhud dan tentu saja saleh. Warok adalah sosok yang kuat dan tangguh, sekaligus seorang seseorang yang pemberani dan kesatria. Rasulullah bersabda bahwa orang yang kuat bukan yang hanya perkasa dimedan perang , tetapi sosok yang mampu mengendalikan diri untuk tidak berbuat dosa. Jihad yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsunya.
Gambaran fisik seorang warok yang bertubuh perkasa, hanyalah lambang lahiriah, ( kenyataanya banyak tokoh warok yang fifiknya kecil dan kurus karena banyak tirakat ) namun dapat ditarik beberapa contoh sikap warok yang mencerminkan, filosofi wira'i :
1. Gemblak
Seorang warok pantang berbuat maksiat ( mengindarkan diri dari zina ( madon ) = wira'), gampangnya ajaran ini dideviasikan ( secara awam ) bahwa untuk memperoleh status menjadi warok tidak boleh madon , oleh karenanya untuk menyalurkan kasih sayang mereka memelihara gemblak ( anak lelaki ). Kebiasaaan ini akhirnya menjadi budaya, dimana seorang warok biasanya membawa gemblak. tentu saja ini juga pembiasan dari nilai yg seharusnya.
2. Tradisi Tirakatan malam suro,
tirakat merupakan media pembelajaran untuk dapat mengendalikan diri dari serakahnya nafsu duniawi. Tirakat berarti mengekang keinginan untuk mengkonsumsinya kenyamanan yang berlebihan, seperti makan, tidur , wanita dsb. Dimaklumi bahwa bulan suro merupakan bulan istimewa tidak hanya orang Ponorogo, bagi orang Islam juga mengakuinya. sehingga bulan suro dianggap baik, untuk pendadaran ilmu. meskipun akhirnya juga terjadi pembiasan makna , grebeg suro tidak lagi menjadi media tirakatan, t tetapi jadi grebeg suro, arena bersuka ria dan bersenang-senang.
....( berlanjut ... )
Karakter masyarakat terbentuk dari assimilasi berbagai unsur yang ada dimasyarakat yang berlaku dalam jamanya. Dulunya Ponorogo merupakan bagian dari wilayah mataram. Sebagaimana kita maklumi bahwa nilai kultur masyarakat jawa ( Mataraman ), sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam pedalaman, yang sedikit lebih khas dibandingkan dengan Islam di Pantura atau daerah pedharungan. Dengan demikian paling tidak dapat ditarik asumsi awal, bahwa adat istiadat wong Ponorogo, juga sangat berbau filosofi-filosofi Islami.
dari sisi saya masih optimis bisa menelusuri jejak warok, kemudian menarik kembali benang merah sejarah, dengan mengkaji nilai-nilai Islam yang saya sakini tidak pernah tergradasi oleh zaman, bahkan sejak saat ajaran warokitu dilahirkan.Yah, Suatu saat saya berharap bisa mendiskripsikan pada diri saya sendiri atau menceritakan pada anak cucu saya kelak, sukur-sukur bisa bermanfaat bagi orang banyak. Seperti apa sosok seorang warok itu ?
warok berasal dari kata Wira'i , yang dalam bebarapa pembahasan seringkali disandingkan dengan zuhud. Zuhud dimaksudkan sebagai kemampuan bertahandiri dari segala nafsu duniawi yang mendorong sesorang bersikap secara berlebihan. Orang zuhud hidup secara sederhana ( efisien dan efektif ) karena beranggapan bahwa semua yang dikuasai adalah milik Allah yang harus dimanaged sebaik-baiknya. Sekalipun sebenarnya dia punya kemampuan untuk bergaya hidup berlebihan, tetapi dia memilih hidup wajar sesuai kebutuhan.
Sedangkan Wira' dimaksudkan kemampuan untuk menghindarkan diri dari perbuatan tercela, berbuat dosa dan melanggar hukum. ( syari'at ).
Jadi jelas, bahwa warok adalah sosok yang telah wira', zuhud dan tentu saja saleh. Warok adalah sosok yang kuat dan tangguh, sekaligus seorang seseorang yang pemberani dan kesatria. Rasulullah bersabda bahwa orang yang kuat bukan yang hanya perkasa dimedan perang , tetapi sosok yang mampu mengendalikan diri untuk tidak berbuat dosa. Jihad yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsunya.
Gambaran fisik seorang warok yang bertubuh perkasa, hanyalah lambang lahiriah, ( kenyataanya banyak tokoh warok yang fifiknya kecil dan kurus karena banyak tirakat ) namun dapat ditarik beberapa contoh sikap warok yang mencerminkan, filosofi wira'i :
1. Gemblak
Seorang warok pantang berbuat maksiat ( mengindarkan diri dari zina ( madon ) = wira'), gampangnya ajaran ini dideviasikan ( secara awam ) bahwa untuk memperoleh status menjadi warok tidak boleh madon , oleh karenanya untuk menyalurkan kasih sayang mereka memelihara gemblak ( anak lelaki ). Kebiasaaan ini akhirnya menjadi budaya, dimana seorang warok biasanya membawa gemblak. tentu saja ini juga pembiasan dari nilai yg seharusnya.
2. Tradisi Tirakatan malam suro,
tirakat merupakan media pembelajaran untuk dapat mengendalikan diri dari serakahnya nafsu duniawi. Tirakat berarti mengekang keinginan untuk mengkonsumsinya kenyamanan yang berlebihan, seperti makan, tidur , wanita dsb. Dimaklumi bahwa bulan suro merupakan bulan istimewa tidak hanya orang Ponorogo, bagi orang Islam juga mengakuinya. sehingga bulan suro dianggap baik, untuk pendadaran ilmu. meskipun akhirnya juga terjadi pembiasan makna , grebeg suro tidak lagi menjadi media tirakatan, t tetapi jadi grebeg suro, arena bersuka ria dan bersenang-senang.
....( berlanjut ... )